Mau Punya Web Keren ?

Google Website Translator Gadget

Minggu, 27 Juli 2008

Festival Film, Penonton dan Komunitas yang Unik


Kegemaran menonton animasi Jepang telah menjelma menjadi identitas bagi beberapa remaja di Bandung. Mereka jadi mencintai segala hal berbau Jepang. Komunitas ini pun dinamai Bandung Japanese Community. Kita tak menyangka mereka bukan berada di Harajuku, Jepang, tetapi di Bandung.

Dandanan, musik, animasi, makanan khas Jepang menjadi kesukaan mereka. Bahkan mereka mencoba menerapkan karakter samurai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai identitas kejepangan-nya, para remaja ini juga memakai nama-nama panggilan seperti nama-nama Jepang.


Panggil saja saya Saijiro ujar Aditia Wisnu Wardana (22) yang tidak tahu apa arti Saijiro. Ia memakai nama itu karena enak didengar.

Adit mengenal Jepang lewat animasi Voltus pada pertengahan tahun 1980-an. Karena kecanduan, uang makan pun dipakai buat membeli VCD animasi Jepang lain yang masih sulit dicari di Indonesia.

Adit belajar bahasa Jepang sebagai bukti keterpikatannya pada budaya Negeri Sakura. Dua tahun lalu, Adit mulai menyukai costum play alias cosplay. Cosplay adalah kelompok yang suka berdandan ala Jepang. Biasanya ia meniru dandanan karakter-karakter dalam animasi Jepang.

Ia memiliki tujuh kostum, antara lain kostum Kira Yamato dari animasi Gundam Seed, Bankotsu dari animasi Inuyasa, Wizard Ro dari Ragnarok Online Game, dan Cross Dressing (baju lelaki dipakai perempuan atau sebaliknya).

Nadira Andini (15) dan Nindia Naraswari (15) juga mengekspresikan �kejepangan�-nya melalui penampilan. Mereka meniru penampilan grup band rock Jepang. Aliran mereka disebut visual kei atau Vkei.

Karena aksesori para rocker Jepang jarang ditemukan di Indonesia, mereka membuat sendiri. Misalnya aksesori rambut dari benang wol atau gelang yang disambung ke kalung rantai.

Sri Wulandari (20), mahasiswa sebuah universitas negeri yang lebih suka disapa Athena ini, lebih menyukai tari Jepang modern dari grup Parapara Gensokai. Awalnya penggemar olahraga renang dan basket ini tidak menyukai tarian. Tapi sete
lah mesin tarian Parapara banyak di mal-mal, ia pun mencoba dan menyukainya.

Sementara itu, Aria Hayu (21) yang menamai dirinya Dragon 01 sudah suka olahraga Jepang seperti karate dan kendo sejak SMP. Kini, mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini menyukai kostum-kostum dan tarian Parapara Jepang. Asyik, gaya tarinya cuek dan membuat badan lebih fit, ujar Aria.

Sementara itu, Yulia Nurul Hilmi atau Li (20) dan Feisa Z Firmansyah atau Veyz (21) lebih menyukai musik pop Jepang. Aliran mereka disebut Japan Pop atau J-pop.

Li awalnya hanya menyukai Doraemon, namun kemudian karena gandrung, ia mulai mencari animasi-animasi Jepang lainnya.

Dari banyak film animasi yang ditontonnya, ia jadi akrab dengan lagu tema animasi tersebut. Li pun mulai mencari lagu-lagu pop Jepang dan menemukan beberapa grup musik yang lagu-lagunya enak ia dengarkan, seperti Tokyo Jihen dan Ayuni Hamasakki.

Tidak hanya ingin jadi penggemar, Li dan teman-temannya membentuk band White Daisy yang menyanyikan lagu-lagu pop Jepang. Li bertindak sebagai vokalis meskipun ia mengaku tidak mengerti arti lirik yang ia nyanyikan karena tidak bisa berbahasa Jepang. Ia menghayati lagu dengan cara menonton terus video klip grup band kesayangannya lewat VCD atau DVD yang masuk ke Indonesia.

Seperti Li, Veyz yang menyukai pop Jepang awalnya hanya tertarik pada lagu Miraie yang diputar di sebuah radio. Lagu tentang petuah-petuah dari seorang ibu itu sangat menyentuh hatinya dan membuatnya mencari ke sana-kemari
kaset-kaset dan CD lagu Jepang yang sulit dicari di Indonesia. Ia juga sering mendownload dari internet.

Toko di Bandung

Para penggemar Jepang ini sering berkumpul di sebuah toko barang-barang Jepang di Jalan Cihampelas, Bandung. Awalnya mereka sering berte
mu di toko tersebut saat mencari barang-barang kegemaran mereka. Setelah itu, satu sama lain sering bertukar informasi tentang kaset, CD, VCD, dan DVD lagu atau animasi yang sedang beredar di Jepang namun tidak bisa ditemukan di Indonesia.

Karena sering mengobrol, akhirnya mereka membuat waktu sendiri untuk nongkrong pada Jumat siang. Pertemuan para anggota komunitas tersebut disebut Pojok Jumat.

Bandung Japanese Community berharap para penggemar Jepang bisa bergabung bersama mereka. Sebab masih banyak komunitas hobi lain yang belum ada dalam komunitas mereka, seperti penggemar manga (komik Jepang) dan kesenian tradisional.

Irma Novitasari alias Tetsuko (25) mengatakan, keberadaan mereka diketahui oleh orangtua masing-masing anggota. Kami juga bersih. Tidak pakai drug dan tidak macam-macam, ujarnya.

Stevie Tumigolung (21), salah satu pelopor komunitas ini, mengatakan, Bandung Japanese Community bahkan mencoba menularkan sikap baik seperti tidak brutal, tidak merusak fasilitas publik, dan tidak membuang sampah sembarangan. Sikap-si
kap samurai sederhana yang mudah dilakukan dalam hidup sehari-hari. Biar kami suka pada sikap hidup orang Jepang, nasionalisme kami tetap tinggi, kata Stevie.

sumber www.kompas.कॉम


Cosplay

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari
Cosplay mengenakan kostum grup musik Malice Mizer
Cosplay mengenakan kostum grup musik Malice Mizer
Cosplay di distrik Harajuku, Tokyo
Cosplay di distrik Harajuku, Tokyo
Cosplay oleh salah satu group cosplayer Indonesia
Cosplay oleh salah satu group cosplayer Indonesia

Cosplay (コスプレ Kosupure?) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (Wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata "costume" (kostum) dan "play" (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, permainan video, atau penyanyi dan musisi idola. Pelaku cosplay disebut cosplayer, Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai layer.

Di Jepang, peserta cosplay bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (dōjin circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar cosplay termasuk cosplayer maupun bukan cosplayer sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia.

[sunting] Sejarah

Sejak paruh kedua tahun 1960-an, penggemar cerita dan film fiksi ilmiah di Amerika Serikat sering mengadakan konvensi fiksi ilmiah. Peserta konvensi mengenakan kostum seperti yang yang dikenakan tokoh-tokoh film fiksi ilmiah seperti Star Trek. Budaya Amerika Serikat sejak dulu mengenal bentuk-bentuk pesta topeng (masquerade) seperti dalam perayaan Haloween dan Paskah.[1]

Tradisi penyelenggaraan konvensi fiksi ilmiah sampai ke Jepang pada dekade 1970-an dalam bentuk acara peragaan kostum (costume show).[2] Di Jepang, peragaan "cosplay" pertama kali dilangsungkan tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi fiksi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17. Kritikus fiksi ilmiah Mari Kotani menghadiri konvensi dengan mengenakan kostum seperti tokoh dalam gambar sampul cerita A Fighting Man of Mars karya Edgar Rice Burroughs. Tidak hanya Mari Kotani menghadiri Nihon SF Taikai sambil ber-cosplay. Direktur perusahaan animasi Gainax, Yasuhiro Takeda memakai kostum tokoh Star Wars.[2]

Pada waktu itu, peserta konvensi menyangka Mari Kotani mengenakan kostum tokoh manga Triton of the Sea karya Osamu Tezuka. Kotani sendiri tidak berusaha keras membantahnya, sehingga media massa sering menulis kostum Triton of the Sea sebagai kostum cosplay pertama yang dikenakan di Jepang. Selanjutnya, kontes cosplay dijadikan acara tetap sejak Nihon SF Taikai ke-19 tahun 1980. Peserta mengenakan kostum Superman, Atom Boy, serta tokoh dalam Toki o Kakeru Shōjo dan film Virus.[3] Selain di Comic Market, acara cosplay menjadi semakin sering diadakan dalam acara pameran dōjinshi dan pertemuan penggemar fiksi ilmiah di Jepang.

Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitandōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut "Tominoko-zoku" ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak Gundam. Kelompok "Tominoko-zoku" dikabarkan muncul sebagai tandingan bagi Takenoko-zoku (kelompok anak muda berpakaian aneh yang waktu itu meramaikan kawasan Harajuku). Istilah "Tominoko-zoku" diambil dari nama sutradara film animasi Gundam, Yoshiyuki Tomino, dan sekaligus merupakan parodi dari istilah Takenoko-zoku. Foto peserta cosplay yang menari-nari sambil mengenakan kostum robot Gundam juga ikut dimuat. Walaupun sebenarnya artikel tentang Tominoko-zoku hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, artikel tersebut berhasil menjadikan "cosplay" sebagai istilah umum di kalangan penggemar anime.

Sebelum istilah cosplay digunakan oleh media massa elektronik, asisten penyiar Minky Yasu sudah sering melakukan cosplay. Kostum tokoh Minky Momo sering dikenakan Minky Yasu dalam acara temu darat mami no RADI-karu communication yang disiarkan antara lain oleh Radio Tōkai sejak tahun 1984. Selanjutnya, acara radio yang sama mulai mengadakan kontes cosplay. Dari tahun 1989 hingga 1995, di tv asahi ditayangkan ranking kostum cosplay yang sedang populer dalam acara Hanakin Data Land.

Sekitar tahun 1985, hobi cosplay semakin meluas di Jepang karena cosplay telah menjadi sesuatu hal yang mudah dilakukan. Pada waktu itu kebetulan tokoh Kapten Tsubasa sedang populer, dan hanya dengan kaus T-shirt pemain bola Kapten Tsubasa, orang sudah bisa "ber-cosplay". Kegiatan cosplay dikabarkan mulai menjadi kegiatan berkelompok sejak tahun 1986. Sejak itu pula mulai bermunculan fotografer amatir (disebut Kamera-kozō) yang senang memotret kegiatan cosplay.[4]

id.wikipedia.org/wiki/Cosplay



0 komentar: